SERAM POST. COM– Sebuah drama kehidupan nyata yang menggetarkan hati baru saja terjadi di Negeri Pamahanunusa. Di tengah riuh rendah penyerahan SK bagi 1.749 PPPK Paruh Waktu Kabupaten Maluku Tengah, mencuat satu nama yang membuat suasana mendadak hening dan penuh haru: Ibu Carolina Mual.
Bayangkan saja, Ibu Carolina telah mendedikasikan 22 tahun hidupnya di SD Negeri 192 Maluku Tengah, Negeri Aboru. Beliau adalah saksi bisu pasang surut pendidikan di pelosok, bertahan di tengah keterbatasan demi mencerdaskan anak bangsa.
Kado Perpisahan Terindah dari Negara
Jumat, 30 Januari 2026, menjadi hari yang tak akan pernah ia lupakan. Tangan gemetarnya menerima SK yang diserahkan langsung oleh Bupati Maluku Tengah, Zulkarnain Awat Amir. Namun, ada fakta yang membuat semua orang terenyuh: SK tersebut berlaku tepat satu hari sebelum beliau memasuki masa pensiun pada 31 Januari 2026.
Bagi Ibu Carolina, ini bukan sekadar kertas kerja, melainkan pengakuan negara atas keringat dan air matanya selama dua dekade lebih.
Bupati Zulkarnain Awat Amir tak mampu menyembunyikan kekagumannya. Dalam sambutnya, bupati mengatakan, Ibu Carolina adalah teladan hidup tentang keikhlas serta inspirasi setiap orang. Tepatnya, pada 1.748 PPPK yang sedang menerima SK.
“Pengabdiannya adalah cermin bagi kita semua tentang apa itu loyalitas tanpa batas,” ungkap Bupati dengan nada bangga.
Bupati pun berharap, dari Ibu Carolina dapat menginspirasi seluruh PPPK Paruh Waktu supaya lebih bekerja keras dengan semangat dedikasi yang tinggi dan rasa tanggung jawab penuh serta semakin cinta terhadap profesi.
“Momen ini bukan sekadar penyerahan SK, tetap tanggung jawab kepada masyarakat bangsa dan negara, ” tutur Bupati
Berdasarkan rilis resmi dari Badan Kepegawaian Negara (BKN), total ada 1.749 pejuang administrasi yang resmi “pecah telur” menjadi PPPK Paruh Waktu, dengan rincian:
1.291 Tenaga Teknis (Garda depan pelayanan publik)
318 Tenaga Kesehatan (Pahlawan kemanusiaan)
140 Tenaga Guru (Pencetak generasi emas)
Meski mayoritas bersuka cita, masih ada 27 orang yang nasibnya “digantung” oleh verifikasi ulang BKN. Masalahnya beragam, mulai dari ijazah yang diragukan keasliannya karena coretan (18 orang), hingga kualifikasi pendidikan yang tidak nyambung dengan formasi.
Momen ini menjadi pengingat keras bagi seluruh ASN di Maluku Tengah: bahwa jabatan adalah amanah, dan pengabdian sejati seperti Ibu Carolina akan selalu menemukan jalan indahnya sendiri. (A.02)

















Discussion about this post