SERAMPOST.COM,BULA – Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan SBT, Punira Kilwalaga menegaskan, obat-obatan yang di distribusikan pihaknya ke Puskesmas, itu sudah dilakukan sesuai prosedur.
Menurut Punira, pemberitaan tentang monopoli pengadaan dan distribusi obat kedaluwarsa, itu sudah mengandung unsur suka dan tidak suka, yang sengaja dimainkan oknum tertentu.
Punira mengatakan, pemberitaan muncul di media setelah dirinya menertibkan aset dinas berupa mobil dan motor dari oknum tertentu.
Tindakan itu, akhirnya memicu ketidakpuasan dari oknum tertentu sudah lama menggunakan aset tersebut. Hingga oknum itu dengan bebas membuat rilis, membangun opini menyerang pribadi Kadinkes.
“Ketika aset ditarik, mulai muncul berita-berita yang tidak benar. Padahal itu aset pemerintah daerah yang memang harus ditertibkan,” ujar Punira dalam konferensi pers di kantor Dinkes SBT, Rabu, 8 April 2026.
Bagi Punira, dirinya tidak ingin merespon pemberitaan yang beredar. Pasalnya, informasi yang disajikan hanya bersifat opini bebas yang dibangun untuk menyerangnya.
“Beta (saya) pikir orang yang cerdas pasti bisa menilai sendiri. Tapi karena ini sudah jadi konsumsi publik, beta (saya) perlu jelaskan,” kata Punira.
Punira dengan tegas membantah tudingan pihaknya mengirim obat kedaluwarsa ke puskesmas atau menjual obat dengan masa berlaku panjang di apotek pribadi.
“Itu fitnah. Beta tidak pegang gudang obat. Ada kepala bidang dan penanggung jawab instalasi farmasi. Semua tercatat dalam berita acara, masuk dan keluar barang jelas,” tuturnya.
Kata Punira, pengelolaan obat dilakukan sesuai prosedur, termasuk prinsip FIFO (First In First Out) dan FEFO (First Expired First Out). “Obat yang lebih dulu masuk atau lebih dulu kedaluwarsa, itu yang didistribusikan lebih dulu. Itu standar,” jelasnya.
Sementara Kepala Instalasi Farmasi Dinkes SBT, Nurlaila Hajrin, menjelaskan setiap distribusi obat dari Dinkes ke puskesmas disertai dokumentasi rinci, mulai dari nama obat, jumlah, nomor batch, tanggal kedaluwarsa, hingga harga per item.
“Semua transparan. Bahkan sekarang setiap item dicantumkan harganya dan didokumentasikan lengkap untuk kebutuhan audit,” katanya. Ia mengakui, obat dengan masa kedaluwarsa yang relatif dekat memang bisa didistribusikan, tetapi tetap dalam batas aman dan sesuai kebutuhan puskesmas.
“Misalnya sisa pengadaan tahun sebelumnya, selama belum expired dan masih dibutuhkan, tetap didistribusikan. Itu justru untuk mencegah kerugian negara,” katanya. (S-4).

















Discussion about this post