Kamis, April 30, 2026
Serampost.com
  • Login
  • NASIONAL
  • DAERAH
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • PEMERINTAHAN
  • HUKRIM
  • PENDIDIKAN
  • BISNIS
  • OLAHRAGA
  • OPINI
  • NASIONAL
  • DAERAH
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • PEMERINTAHAN
  • HUKRIM
  • PENDIDIKAN
  • BISNIS
  • OLAHRAGA
  • OPINI
No Result
View All Result
Morning News
  • Beranda
  • Nasional
  • Daerah
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukrim
No Result
View All Result
Home Opini

Bisnis Atas Nama Rakyat, Jejak Wagub Abdullah Vanath dari Pala ke Budidaya Udang

Oleh Fadel Rumakat, Aktivis Maluku

Redaksi_ Penulis Redaksi_
Senin, 25 Agustus 2025
in Opini, Terkini
0
Wagub Maluku Diduga Ambil Alih Lahan Parkir Pasar Mardika, Abaikan Instruksi Gubernur

SERAMPOST.COM,OPINI – Di Maluku, nama rakyat sering kali menjadi mantra sakti. Ia dipakai untuk membungkus hampir semua kebijakan dan inisiatif pejabat publik, seolah setiap langkah semata-mata demi kesejahteraan masyarakat.

Namun dalam praktiknya, kepentingan rakyat kerap hanya jadi bungkus retoris, sementara substansi yang mengemuka adalah bisnis dan akumulasi keuntungan pribadi.

BACA JUGA :

Running Test Pengaliran Irigasi Daerah Jembatan Basa Berhasil Jangkau Semua Lahan

Hindari Konflik di Masyarakat, KAMMI Minta Pemda SBT Percepat Pilkades Serentak

Fenomena ini tampak jelas dalam jejak ekonomi Wakil Gubernur Maluku, yang dalam beberapa tahun terakhir aktif mempromosikan budidaya pala hingga tambak udang dengan narasi besar “untuk rakyat.”

Sejak awal, komoditas pala dijadikan simbol kebangkitan ekonomi Maluku. Dengan sejarah panjang sebagai rempah strategis dunia, pala kembali dijual sebagai kebanggaan identitas sekaligus pintu ekspor.

Wagub Maluku gencar mengampanyekan peningkatan produksi pala, bahkan menghadirkan investor untuk memperluas skala industri. Narasi yang dibangun sederhana: meningkatkan ekspor pala berarti meningkatkan pendapatan petani. Namun, fakta lapangan menunjukkan tidak sesederhana itu.

Pertama, sebagian besar petani pala di Maluku tidak memiliki akses ke pasar ekspor. Mereka tetap bergantung pada pengepul yang memainkan harga. Kedua, industrialisasi pala lebih banyak menguntungkan kelompok pemodal yang mampu menguasai rantai distribusi, bukan petani kecil. Ketiga, program pemerintah untuk revitalisasi pala sering berhenti pada seremoni penanaman dan janji bibit unggul tanpa keberlanjutan. Dengan kata lain, pala lebih menjadi komoditas politik ketimbang solusi ekonomi rakyat.

Kini, pola yang sama muncul dalam promosi budidaya udang. Wagub Maluku dengan lantang menyebut tambak udang sebagai masa depan ekonomi daerah. Retorikanya: Maluku memiliki garis pantai panjang, laut yang bersih, dan potensi perikanan yang melimpah—semua modal itu harus dimanfaatkan untuk industri tambak modern. Sekilas, narasi ini terdengar logis. Tetapi, siapa sebenarnya yang akan menguasai tambak-tambak udang itu?

Pengalaman di berbagai daerah lain di Indonesia menunjukkan bahwa industri tambak udang super-intensif umumnya melibatkan investasi besar. Modal miliaran rupiah diperlukan untuk lahan, infrastruktur, hingga sistem manajemen air. Petani kecil nyaris mustahil masuk dalam skema ini kecuali sebagai buruh murah. Apabila model investasi semacam ini didorong di Maluku, besar kemungkinan rakyat hanya menjadi penonton—atau bahkan korban—dari proyek-proyek yang dipromosikan “atas nama mereka.”

Selain itu, ekspansi tambak udang berpotensi menimbulkan persoalan lingkungan yang serius. Perubahan ekosistem pesisir, pencemaran limbah, hingga konflik lahan dengan masyarakat adat bisa muncul sewaktu-waktu. Ironisnya, isu-isu krusial seperti ini jarang disentuh dalam narasi optimistis sang Wagub. Lagi-lagi, rakyat ditempatkan hanya sebagai ornamen legitimasi, bukan sebagai subjek utama pembangunan.

Pertanyaan mendasar kemudian muncul: apakah orientasi kebijakan ini benar-benar berpihak pada rakyat atau sekadar memperluas portofolio bisnis elit politik daerah? Bila menilik jejak retoris dari pala ke udang, pola framing yang berulang terlihat jelas. Proyek-proyek ekonomi besar dilabeli sebagai strategi menyejahterakan masyarakat, padahal mekanisme partisipasi rakyat nyaris tidak pernah dijamin.

Kritik ini penting, sebab konsekuensinya menyangkut arah pembangunan Maluku ke depan. Jika strategi pembangunan hanya menjadi etalase investasi tanpa memastikan distribusi keuntungan yang adil, maka kesenjangan akan semakin melebar. Maluku bisa saja mencatat kenaikan nilai ekspor pala dan udang, tetapi angka kemiskinan di desa-desa tetap stagnan. Rakyat tidak otomatis sejahtera hanya karena komoditas daerahnya diperdagangkan di pasar global.

Lebih jauh, cara-cara framing bisnis atas nama rakyat ini juga berbahaya bagi demokrasi lokal. Ia menciptakan ilusi bahwa pemimpin selalu hadir demi kepentingan bersama, padahal kepentingan pribadi dan kelompoknya terselip di balik layar. Dalam jangka panjang, legitimasi politik dibangun di atas propaganda kesejahteraan semu. Rakyat yang kritis terhadap kebijakan mudah dilabeli “anti pembangunan,” sementara pejabat bebas bergerak dengan stempel populis.

Tentu, tidak ada yang salah dengan inovasi ekonomi berbasis pala maupun udang. Maluku memang butuh terobosan untuk keluar dari jebakan daerah kaya sumber daya tetapi miskin pengelolaan. Namun, pendekatan yang dipilih mestinya transparan, partisipatif, dan benar-benar mengakar pada kebutuhan rakyat. Bukan sekadar menjadikan nama rakyat sebagai jubah politik untuk melindungi kepentingan bisnis segelintir elit.

Karena itu, ada beberapa hal yang perlu digarisbawahi. Pertama, setiap proyek strategis seperti budidaya udang harus dibuka secara transparan, mulai dari siapa investor yang terlibat, berapa modal yang digelontorkan, hingga bagaimana skema bagi hasilnya. Kedua, rakyat harus dilibatkan sejak awal dalam perencanaan, bukan hanya dijadikan obyek seremoni. Ketiga, keberlanjutan lingkungan harus menjadi syarat mutlak, sebab kerusakan ekosistem pesisir akan langsung menghantam kehidupan masyarakat Maluku yang mayoritas hidup dari laut.

Kita tidak boleh lagi terjebak pada retorika “atas nama rakyat” yang hanya berfungsi sebagai bendera. Maluku sudah terlalu lama hidup dalam paradoks: kaya akan sumber daya, tetapi rakyatnya tetap miskin. Jika elit politik masih terus menjadikan bisnis sebagai prioritas pribadi lalu mengklaimnya demi rakyat, maka masa depan pembangunan hanya akan menjadi sandiwara panjang.

Jejak dari pala ke udang seharusnya memberi pelajaran, bukan sekadar catatan keberulangan. Rakyat Maluku membutuhkan pemimpin yang tidak hanya piawai berbisnis, tetapi juga berani memastikan setiap keuntungan yang dihasilkan kembali pada mereka yang paling berhak: rakyat itu sendiri.

BeritaTerkait

Running Test Pengaliran Irigasi Daerah Jembatan Basa Berhasil Jangkau Semua Lahan

Running Test Pengaliran Irigasi Daerah Jembatan Basa Berhasil Jangkau Semua Lahan

Penulis Redaksi_
Selasa, 28 April 2026
0

SERAMPOST.COM,BULA - Pemerintah Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT) Maluku, bersama pihak terkait, melakukan uji pengaliran (Running Test) Sistem Jaringan Irigasi di...

Hindari Konflik di Masyarakat, KAMMI Minta Pemda SBT Percepat Pilkades Serentak

Hindari Konflik di Masyarakat, KAMMI Minta Pemda SBT Percepat Pilkades Serentak

Penulis Redaksi_
Selasa, 28 April 2026
0

SERAMPOST.COM,BULA - Ketua Cabang Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT) Maluku, Baharuddin Kesuy, meminta Pemerintah Daerah...

Simak! Penjelasan Resmi Kasat Reskrim Polres SBT Terkait Pengadaan Obat di Dinas Kesehatan 

Simak! Penjelasan Resmi Kasat Reskrim Polres SBT Terkait Pengadaan Obat di Dinas Kesehatan 

Penulis Redaksi_
Senin, 27 April 2026
0

SERAMPOST.COM,BULA - Kasat Reskrim Polres Seram Bagian Timur (SBT), Maluku, Iptu Ainul Andri Lubis, membantah informasi yang beredar di beberapa media,...

PT Permata Hitam Buka Suara, Sebut Penyaluran BBM Bersubsidi Sesuai Prosedur 

PT Permata Hitam Buka Suara, Sebut Penyaluran BBM Bersubsidi Sesuai Prosedur 

Penulis Redaksi_
Sabtu, 25 April 2026
0

SERAMPOST.COM,BULA - Manajemen PT. Permata Hitam akhirnya buka suara terkait dugaan Ilegal Oil di Desa Jembatan Basa, Kecamatan Bula Barat, Kabupaten...

Dedikasi Tanpa Batas: Fidyaningsi, Ahli Gizi Dari Nusantara Sehat Mengabdi di Bumi SBT 

Dedikasi Tanpa Batas: Fidyaningsi, Ahli Gizi Dari Nusantara Sehat Mengabdi di Bumi SBT 

Penulis Redaksi_
Kamis, 23 April 2026
0

SERAMPOST.COM,OPINI - Kehadiran tenaga kesehatan yang berdedikasi sering kali menjadi harapan baru bagi masyarakat di daerah terpencil. Hal itulah yang...

LMND SBT Temukan PT Permata Hitam Lakukan Ilegal Oil, Desak Pertamina Cabut Izin 

LMND SBT Temukan PT Permata Hitam Lakukan Ilegal Oil, Desak Pertamina Cabut Izin 

Penulis Redaksi_
Kamis, 23 April 2026
0

SERAMPOST.COM,BULA - Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) di Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT) Maluku, temukan bukti kejahatan Ilegal Oil yang...

Next Post
Fadel: Kehadiran OPD di Pelantikan Ketua DPW PKS Maluku Bukan Dukungan Politik, Jangan Dipersoalkan 

Fadel: Kehadiran OPD di Pelantikan Ketua DPW PKS Maluku Bukan Dukungan Politik, Jangan Dipersoalkan 

Discussion about this post

POPULAR NEWS

KPU SBT Akan Diseret Tim Hukum Rohani Vanath – Madja Rumatiga ke DKPP

KPU SBT Akan Diseret Tim Hukum Rohani Vanath – Madja Rumatiga ke DKPP

Kamis, 5 Desember 2024
Fraksi NasDem Desak Mirnawati Derlean Turun Dari Jabatan Penjabat Sekda SBT

Abdul Mukti Polisikan Anggota DPRD SBT Alexander Patty dan Santy 

Selasa, 27 Mei 2025
Gawat! Formasi Birokrasi Pemprov Maluku: Gubernur dan Wagub Pecah Kongsi?

Gawat! Formasi Birokrasi Pemprov Maluku: Gubernur dan Wagub Pecah Kongsi?

Senin, 18 Agustus 2025
Kronologi Anak Mantan Pimpinan DPRD SBT Diduga Setubuhi Seorang Gadis di Perumahan Pendopo 

Kronologi Anak Mantan Pimpinan DPRD SBT Diduga Setubuhi Seorang Gadis di Perumahan Pendopo 

Minggu, 29 Desember 2024
Diduga Main Politik Uang, Kuasa Hukum Rohani – Madja Lapor Bakri Mony ke Bawaslu SBT

Diduga Main Politik Uang, Kuasa Hukum Rohani – Madja Lapor Bakri Mony ke Bawaslu SBT

Senin, 2 Desember 2024

EDITOR'S PICK

Angin Puting Beliung Robohkan Dua Rumah Warga SBT Hingga Rata Tanah, Puluhan Lainnya Rusak Ringan

Angin Puting Beliung Robohkan Dua Rumah Warga SBT Hingga Rata Tanah, Puluhan Lainnya Rusak Ringan

Kamis, 19 Desember 2024
Begini Pesan dr. Deny Suryana di Momentum HUT ke 17 RSUD Bula

Begini Pesan dr. Deny Suryana di Momentum HUT ke 17 RSUD Bula

Jumat, 20 Juni 2025
Kadis Pariwisata Maluku Dukung Biro Perjalanan Wisata Sagu di Kabupaten SBT

Kadis Pariwisata Maluku Dukung Biro Perjalanan Wisata Sagu di Kabupaten SBT

Senin, 21 Juli 2025
Datangi Kemendagri, Noaf : Tinggal Tahap Ini, Ukar Sengan Jadi Kecamatan Definitif

Datangi Kemendagri, Noaf : Tinggal Tahap Ini, Ukar Sengan Jadi Kecamatan Definitif

Kamis, 16 Januari 2025

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
No Result
View All Result
  • NASIONAL
  • DAERAH
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • PEMERINTAHAN
  • HUKRIM
  • PENDIDIKAN
  • BISNIS
  • OLAHRAGA
  • OPINI

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In