Kamis, April 30, 2026
Serampost.com
  • Login
  • NASIONAL
  • DAERAH
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • PEMERINTAHAN
  • HUKRIM
  • PENDIDIKAN
  • BISNIS
  • OLAHRAGA
  • OPINI
  • NASIONAL
  • DAERAH
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • PEMERINTAHAN
  • HUKRIM
  • PENDIDIKAN
  • BISNIS
  • OLAHRAGA
  • OPINI
No Result
View All Result
Morning News
  • Beranda
  • Nasional
  • Daerah
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukrim
No Result
View All Result
Home Opini

Dari Solidaritas ke Volunterisme Kritis

Oleh: Risno Ibrahim | Anak Muda Maluku

Redaksi_ Penulis Redaksi_
Rabu, 27 Agustus 2025
in Opini, Terkini
0
PB HMI: Hentikan Eksploitasi Gunung Tinggi, Seram Bagian Barat Terancam Kehancuran Ekologis

SERAMPOST.COM, OPINI – Tidak ada yang meragukan kuatnya jiwa volunterisme di Maluku. Hampir setiap kali ada tragedi, bencana, atau konflik, masyarakat dengan cepat bergerak. Nilai luhur “hidop orang basudara” menjelma menjadi energi sosial yang nyata: warga saling menolong tanpa pamrih, komunitas membuka tangan bagi sesama, anak-anak muda mengorganisir diri untuk membantu mereka yang paling lemah. Semua itu adalah potret solidaritas yang membanggakan, bahkan sering disebut sebagai salah satu kekayaan kultural Maluku yang tidak dimiliki banyak daerah lain. Solidaritas ini telah berulang kali menjadi perekat di tengah luka, membuktikan bahwa masyarakat Maluku memiliki daya tahan sosial yang luar biasa.

Namun di balik kilau solidaritas itu, sesungguhnya tersimpan paradoks yang berbahaya. Volunterisme yang begitu kuat justru menumpulkan daya kritis masyarakat terhadap negara. Ketika rakyat sibuk mengurus dirinya sendiri, pemerintah daerah justru memperoleh ruang untuk absen—atau sekadar tampil simbolis di depan kamera. Alih-alih memperkuat peran negara, solidaritas yang berlebihan justru membuat tanggung jawab konstitusional pemerintah semakin kabur. Dalam bahasa Antonio Gramsci, inilah bentuk “hegemoni halus”: rakyat tenggelam dalam kesibukan menolong sesama, tetapi secara tak sadar membiarkan struktur kekuasaan berjalan bebas tanpa akuntabilitas.

BACA JUGA :

Running Test Pengaliran Irigasi Daerah Jembatan Basa Berhasil Jangkau Semua Lahan

Hindari Konflik di Masyarakat, KAMMI Minta Pemda SBT Percepat Pilkades Serentak

Secara sosiologis, fenomena ini bisa dibaca melalui gagasan Emile Durkheim tentang solidaritas. Maluku hidup dari apa yang disebut solidaritas mekanik—ikatan sosial yang tumbuh dari kesamaan tradisi, nilai, dan rasa kebersamaan. Solidaritas inilah yang membuat masyarakat cepat bergerak saat bencana melanda. Tetapi dalam masyarakat modern, solidaritas mekanik saja tidak cukup. Yang dibutuhkan adalah solidaritas organik: sistem kelembagaan yang rasional, profesional, dan berfungsi secara teratur—yang seharusnya dijalankan oleh negara. Bila masyarakat terus terjebak dalam solidaritas mekanik tanpa menuntut hadirnya solidaritas organik, maka pemerintah hanya akan menjadi penonton yang terlalu nyaman, hadir sekadarnya tanpa membangun fondasi perlindungan yang kokoh.

Dari sudut pandang ekonomi-politik, masalah ini juga berhubungan dengan ketimpangan struktural yang terus dibiarkan. James C. Scott pernah menjelaskan bahwa rakyat kerap memilih strategi bertahan sehari-hari tanpa melawan akar persoalan struktural. Pola ini terlihat jelas dalam volunterisme di Maluku: rakyat menolong sesama demi bertahan hidup, tetapi tidak menggugat mengapa negara gagal membangun sistem mitigasi bencana dan perlindungan sosial. Akibatnya, ketimpangan itu tetap kokoh, sementara masyarakat hanya menambal kerusakan demi kerusakan. Inilah bahaya terbesar dari situasi tersebut: lahirnya ilusi kemandirian, seakan-akan masyarakat bisa mengurus dirinya sendiri tanpa negara.

Padahal, jika merujuk pada kontrak sosial ala Jean-Jacques Rousseau, negara lahir justru karena rakyat menyerahkan sebagian hak mereka dengan harapan ada otoritas yang menjamin keselamatan bersama. Jika negara terus lalai, sementara rakyat tak berani menggugat karena sibuk menolong diri mereka sendiri, kontrak sosial itu runtuh dalam diam. Inilah wajah bahaya ketika solidaritas rakyat dipakai sebagai tameng untuk menutupi absennya negara.

Filsuf Slavoj Zizek pernah berkata: “Sometimes doing nothing is the most violent thing.” Kalimat ini terasa relevan untuk membaca sikap negara di Maluku. Negara seolah percaya bahwa rakyat akan saling menolong, sehingga ia bisa memilih diam atau sekadar hadir formalitas. Tetapi justru dalam “ketiadaan tindakan” itulah kekerasan struktural bekerja. Mengapa? Karena ketika pemerintah daerah tidak bertindak untuk mencegah konflik, mengantisipasi bencana, atau memberi layanan cepat saat tragedi melanda, rakyat dipaksa menanggung beban itu sendirian. Diamnya negara bukanlah netralitas, melainkan bentuk kekerasan pasif yang membuat penderitaan rakyat terus berulang.

Lebih jauh lagi, kritik Karl Marx tentang reproduksi ketimpangan menemukan relevansinya di sini. Volunterisme yang tampak mulia, tanpa sadar, bisa menjadi mekanisme untuk memperkuat status quo. Rakyat terus menambal kebocoran sosial dengan tenaga dan sumber daya mereka, sementara pemerintah—yang menguasai anggaran publik—dibiarkan lepas dari kewajiban. Jika pola ini berlanjut, ketidakadilan akan semakin melembaga, bersembunyi di balik romantisme solidaritas.

Di sinilah pentingnya mengingat kalimat Friedrich Nietzsche: “He who has a why to live can bear almost any how.”(Barang siapa punya alasan untuk hidup, ia bisa menanggung hampir segala cara untuk menjalaninya). Maluku sudah memiliki “why” yang kuat dalam bentuk solidaritas orang basudara. Itulah alasan mengapa rakyat mampu bangkit meski berkali-kali dilanda bencana atau konflik. Tetapi Nietzsche juga memberi peringatan: why saja tidak cukup. Tanpa “how”berupa sistem pemerintahan yang akuntabel dan kelembagaan yang bekerja, solidaritas itu hanya akan menjadi romantisme yang terus berulang tanpa menyentuh akar masalah. Dengan kata lain, rakyat Maluku sudah punya alasan yang kuat untuk bertahan, tetapi jika jalan untuk bertahan itu tidak diperkuat oleh negara, maka energi sosial itu hanya akan habis dalam lingkaran darurat yang tak pernah berakhir.

Karena itu, volunterisme di Maluku perlu ditransformasikan. Solidaritas memang tetap penting, tetapi ia tidak boleh berhenti pada romantisme. Ia harus menjadi landasan untuk melahirkan volunterisme kritis. Apa yang dimaksud dengan volunterisme kritis? Ia adalah bentuk solidaritas yang tidak hanya bergerak untuk menolong sesaat, tetapi juga berani menuntut pertanggungjawaban negara. Relawan tidak cukup hadir dalam dapur umum, posko bantuan, atau penggalangan dana, tetapi juga dalam ruang-ruang politik kewargaan: menekan pemerintah untuk membangun sistem mitigasi bencana yang terukur, memperbaiki tata kelola sosial, dan menutup celah yang melahirkan konflik.

Volunterisme kritis berarti rakyat bukan hanya penolong, melainkan juga pengawas. Ia menuntut agar pemerintah daerah tidak sekadar hadir saat kamera menyorot, tetapi bekerja secara konsisten untuk membangun perlindungan jangka panjang: mencegah bencana, mengurangi kerentanan, dan menyelesaikan persoalan sosial dari akarnya. Dengan begitu, semangat orang basudara tidak berhenti pada romantisme kultural, tetapi menjelma menjadi kekuatan politik kewargaan yang mampu mengawal negara.

Singkatnya, jiwa volunterisme Maluku memang sebuah modal sosial yang luar biasa. Tetapi bila ia dibiarkan menumpulkan kritik terhadap negara, ia akan berubah menjadi pedang bermata dua: menguatkan rakyat di satu sisi, sekaligus melemahkan tanggung jawab struktural di sisi lain. Jalan ke depan adalah mentransformasi solidaritas itu menjadi volunterisme kritis—agar orang basudara tidak hanya merawat luka, tetapi juga menolak absen negara yang terlalu lama bersembunyi di balik kebaikan rakyatnya sendiri.(*)

 

BeritaTerkait

Running Test Pengaliran Irigasi Daerah Jembatan Basa Berhasil Jangkau Semua Lahan

Running Test Pengaliran Irigasi Daerah Jembatan Basa Berhasil Jangkau Semua Lahan

Penulis Redaksi_
Selasa, 28 April 2026
0

SERAMPOST.COM,BULA - Pemerintah Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT) Maluku, bersama pihak terkait, melakukan uji pengaliran (Running Test) Sistem Jaringan Irigasi di...

Hindari Konflik di Masyarakat, KAMMI Minta Pemda SBT Percepat Pilkades Serentak

Hindari Konflik di Masyarakat, KAMMI Minta Pemda SBT Percepat Pilkades Serentak

Penulis Redaksi_
Selasa, 28 April 2026
0

SERAMPOST.COM,BULA - Ketua Cabang Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT) Maluku, Baharuddin Kesuy, meminta Pemerintah Daerah...

Simak! Penjelasan Resmi Kasat Reskrim Polres SBT Terkait Pengadaan Obat di Dinas Kesehatan 

Simak! Penjelasan Resmi Kasat Reskrim Polres SBT Terkait Pengadaan Obat di Dinas Kesehatan 

Penulis Redaksi_
Senin, 27 April 2026
0

SERAMPOST.COM,BULA - Kasat Reskrim Polres Seram Bagian Timur (SBT), Maluku, Iptu Ainul Andri Lubis, membantah informasi yang beredar di beberapa media,...

PT Permata Hitam Buka Suara, Sebut Penyaluran BBM Bersubsidi Sesuai Prosedur 

PT Permata Hitam Buka Suara, Sebut Penyaluran BBM Bersubsidi Sesuai Prosedur 

Penulis Redaksi_
Sabtu, 25 April 2026
0

SERAMPOST.COM,BULA - Manajemen PT. Permata Hitam akhirnya buka suara terkait dugaan Ilegal Oil di Desa Jembatan Basa, Kecamatan Bula Barat, Kabupaten...

Dedikasi Tanpa Batas: Fidyaningsi, Ahli Gizi Dari Nusantara Sehat Mengabdi di Bumi SBT 

Dedikasi Tanpa Batas: Fidyaningsi, Ahli Gizi Dari Nusantara Sehat Mengabdi di Bumi SBT 

Penulis Redaksi_
Kamis, 23 April 2026
0

SERAMPOST.COM,OPINI - Kehadiran tenaga kesehatan yang berdedikasi sering kali menjadi harapan baru bagi masyarakat di daerah terpencil. Hal itulah yang...

LMND SBT Temukan PT Permata Hitam Lakukan Ilegal Oil, Desak Pertamina Cabut Izin 

LMND SBT Temukan PT Permata Hitam Lakukan Ilegal Oil, Desak Pertamina Cabut Izin 

Penulis Redaksi_
Kamis, 23 April 2026
0

SERAMPOST.COM,BULA - Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) di Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT) Maluku, temukan bukti kejahatan Ilegal Oil yang...

Next Post
Hasil Reses Aleg Rifai, Warga Keluhkan Fasilitas Kesehatan dan Pendidikan

Hasil Reses Aleg Rifai, Warga Keluhkan Fasilitas Kesehatan dan Pendidikan

Discussion about this post

POPULAR NEWS

KPU SBT Akan Diseret Tim Hukum Rohani Vanath – Madja Rumatiga ke DKPP

KPU SBT Akan Diseret Tim Hukum Rohani Vanath – Madja Rumatiga ke DKPP

Kamis, 5 Desember 2024
Fraksi NasDem Desak Mirnawati Derlean Turun Dari Jabatan Penjabat Sekda SBT

Abdul Mukti Polisikan Anggota DPRD SBT Alexander Patty dan Santy 

Selasa, 27 Mei 2025
Gawat! Formasi Birokrasi Pemprov Maluku: Gubernur dan Wagub Pecah Kongsi?

Gawat! Formasi Birokrasi Pemprov Maluku: Gubernur dan Wagub Pecah Kongsi?

Senin, 18 Agustus 2025
Kronologi Anak Mantan Pimpinan DPRD SBT Diduga Setubuhi Seorang Gadis di Perumahan Pendopo 

Kronologi Anak Mantan Pimpinan DPRD SBT Diduga Setubuhi Seorang Gadis di Perumahan Pendopo 

Minggu, 29 Desember 2024
Diduga Main Politik Uang, Kuasa Hukum Rohani – Madja Lapor Bakri Mony ke Bawaslu SBT

Diduga Main Politik Uang, Kuasa Hukum Rohani – Madja Lapor Bakri Mony ke Bawaslu SBT

Senin, 2 Desember 2024

EDITOR'S PICK

Warga Minta Pemkab SBT Gerak Cepat Tangani Banjir Rob di Desa Salagur

Warga Minta Pemkab SBT Gerak Cepat Tangani Banjir Rob di Desa Salagur

Rabu, 2 April 2025
Tinjau Lokasi Banjir, Wabup SBT Perintah Kepala BPBD Data Lengkap Warga Terdampak

Tinjau Lokasi Banjir, Wabup SBT Perintah Kepala BPBD Data Lengkap Warga Terdampak

Sabtu, 5 April 2025
7 Tersangka Kasus Ilegal Logging di SBT Diserahkan ke Jaksa Penuntut Umum

7 Tersangka Kasus Ilegal Logging di SBT Diserahkan ke Jaksa Penuntut Umum

Selasa, 25 Februari 2025
La Demi Ancam Lapor Pidana, Kuasa Hukum Mr. Sun Deai: Jangan Gertak, Kalau Serius Kami Hadapi

La Demi Ancam Lapor Pidana, Kuasa Hukum Mr. Sun Deai: Jangan Gertak, Kalau Serius Kami Hadapi

Rabu, 19 Februari 2025

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
No Result
View All Result
  • NASIONAL
  • DAERAH
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • PEMERINTAHAN
  • HUKRIM
  • PENDIDIKAN
  • BISNIS
  • OLAHRAGA
  • OPINI

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In