SERAMPOST.COM,OPINI – Hilirisasi sagu tidak sekadar menjadi program pembangunan, tetapi kini telah menjadi langkah inovatif pemerintah daerah dalam memperkenalkan Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT) melalui kekayaan sumber daya alamnya.
Namun, sebelum agenda besar ini berjalan optimal, terdapat satu syarat utama: SDM harus siap. Dari sinilah muncul pesan penting dalam judul opini ini — “Sedia Aku Sebelum Hilirisasi” yang menegaskan bahwa keberhasilan hilirisasi bergantung pada kesiapan manusia sebagai pelaku utama.
Kesadaran tersebut melandasi pelaksanaan Pelatihan Teknis Produk Olahan Sagu melalui Program Transformasi Ekonomi Kampung Terpadu (TEKAD) oleh Kemendesa PDT, yang digelar di tiga desa keterwakilan tiga kecamatan: Negeri Danama (Tutuk Tolu), Negeri Administratif Aratafela (Kian Darat), dan Negeri Administratif Keta (Siritaun Wida Timur).
Setiap rangkaian pelatihan berlangsung selama tiga hari per desa, dengan pendekatan pemberian materi dan praktek secara lansung yang memberikan ruang belajar yang intensif untuk masyarakat.
Program TEKAD Bersinergi dengan Langkah Inovatif Daerah dalam Hilirisasi Sagu
Pelatihan teknis ini menjadi bukti nyata sinergi antara program nasional melalui TEKAD dan program hilirisasi sagu yang sedang dicanangkan Pemerintah Daerah SBT.
Hilirisasi sagu dinilai sebagai kebijakan progresif dan inovatif karena:
• Mengangkat identitas SBT sebagai daerah penghasil sagu berkualitas
• Mengoptimalkan sumber daya alam lokal•
Meningkatkan pola ekonomi dari bahan mentah menuju produk bernilai tambah
• Menghadirkan peluang usaha baru bagi masyarakat
Melalui kebijakan hilirisasi ini, pemerintah daerah menunjukkan komitmen kuat dalam memajukan ekonomi berbasis potensi desa dengan produk lokal, serta memperkenalkan SBT ke tingkat yang lebih luas melalui kekayaan alamnya.
Ini adalah langkah inovatif yang patut diapresiasi, karena tidak hanya mengandalkan sektor besar, tetapi juga mengangkat masyarakat desa sebagai pelaku utama.
Pelatihan TEKAD kemudian memperkuat pondasi kebijakan tersebut dengan menyiapkan SDM yang mampu mengolah sagu menjadi berbagai produk yang siap masuk pasar.
Sdm Sebagai Kunci Hilirisasi
Potensi sagu SBT sangat besar, tetapi selama ini sebagian besar masih berhenti pada tahap bahan mentah dan produk tradisional seperti sagu lempeng.
Agar hilirisasi benar-benar berjalan, masyarakat harus memiliki keterampilan teknis. Karena itu pelatihan ini berfokus pada tiga produk olahan yang sudah fameliar di kalangan masyarakat:
1. Kerupuk sagu
2. Mi sagu
3. Bakso sagu
Dengan pendekatan praktik secara langsung, memberikan pengalaman nyata bagi masyarakat, mulai dari teknik pengolahan higienis hingga pengemasan.
Keterampilan ini menjadi dasar penting agar masyarakat dapat masuk dalam rantai hilirisasi dan menghasilkan produk bernilai ekonomi tinggi. Selain praktek, Masyarakat pun dibekali dengan materi yang membahas terkait legalitas produk.
Program TEKAD sebagai Pendorong Transformasi Ekonomi Desa
Program TEKAD memainkan peran strategis:
1. Menyiapkan SDM sebelum hilirisasi dijalankan
Selaras dengan pesan “Sedia Aku Sebelum Hilirisasi”.
2. Mendorong lahirnya wirausaha desa berbasis sagu
Melibatkan ibu rumah tangga, pemuda, dan kelompok usaha.
3. Mendukung ketahanan pangan dan ekonomi keluarga
Sagu menjadi alternatif makanan lokal yang sehat, terjangkau, dan bernilai jual.
4. Memperkuat ekosistem hilirisasi dari desa ke kabupaten
Program ini memastikan masyarakat memiliki kemampuan untuk mendukung kebijakan daerah.
Harapan Besar: Pangan Lokal Menjadi Produk Ekonomis
Arull Rahya bilang bahwa tujuan utama pelatihan yang dilakukan, mendorong masyarakat agar mampu mengelola pangan lokal menjadi produk bernilai ekonomi tinggi, Ketika SDM desa siap, hilirisasi berjalan dari bawah — dari dapur, dari rumah, dari kelompok usaha kecil yang mengolah sagu menjadi produk bernilai jual.
Dengan keterampilan itu, masyarakat di Danama, Aratafela, dan Keta diharapkan menjadi motor penggerak ekonomi berbasis sagu—baik melalui usaha rumahan maupun produk skala kecil yang dapat dikembangkan ke pasar yang lebih luas.
Penutup: Hilirisasi Dimulai dari Manusia
Pelatihan teknis olahan sagu yang diselenggarakan Program TEKAD membuktikan bahwa hilirisasi tidak hanya tentang program pemerintah, tetapi tentang kesiapan masyarakat. Ketika SDM desa terampil, inovatif, dan berani berusaha, maka hilirisasi benar-benar berjalan dari bawah.
“Dengan kebijakan daerah yang inovatif dan SDM yang kini lebih terampil, Seram Bagian Timur siap memperkenalkan diri sebagai kabupaten dengan kekuatan ekonomi berbasis sagu — komoditas identitas yang kini bergerak dari tradisi menuju inovasi,” ucap Arul Rahya. (***).

















Discussion about this post